Showing posts with label Bahagia. Show all posts
Showing posts with label Bahagia. Show all posts

Tuesday, December 10, 2013

Mengungkap Rahasia Sukses, Kaya dan Bahagia

Siapakah diantara kita yang ingin sukses ? jawabannya tentu serempak “Saya…!”, iya kan, tuh Anda juga mengacungkan tangan (walau dalam hati he…he..). Lalu sukses seperti apa yang kita inginkan ? Jawaban Anda barangkali berbeda-beda, ada yang sukses berarti bahagia dunia akhirat walau hidup sederhana, ada juga sukses itu adalah sebuah perjalanan “life is journey“, kata Anda,   “life is adventure” kata anak kecil di iklan tv, sukses adalah berproses, maka mari kita berbuat bersama Partai ….. (eh malah kampanye lagi…..).

Salah satu parameter kesuksesan adalah menjadi kaya. Jika saya harus memilih antara miskin bersabar atau kaya bersyukur, maka saya akan memilih kaya bersyukur, begitu juga dengan Anda kan ?

Rasionalisasinya karena kemiskinan itu jahat (cieh segitu amat yah…), eit jangan marah dulu dong, faktanya, kemiskinan bisa menyebabkan banyak sekali efek negatif, diantaranya; menyebabkan pertengkaran keluarga, keluarga yang asalnya harmonis menjadi retak gara-gara kekurangan ekonomi, orangtua ada yang tega menjual anaknya, suami tega meniduri istrinya (eh, maksudnya menidurkan istrinya dengan orang lain he..he..), orang tega menipu, mencopet, merampok, mencuri. disamping itu dengan adanya kemiskinan membatasi kesempatan hidup enak dan bahagia, dalam situasi miskin menyebabkan kita terbelenggu dan sulit keluar dari situasi pelik. dan masih banyak lagi, Rasulullah SAW menyatakan kadzal fakru an yakuuna kufran, kemiskinan menyebabkan kekufuran, nah lo…

Saya melihat walau ada banyak pilihan dalam hidup ini, satu-satunya yang dari dulu menjadi impian saya adalah menjadi pengusaha. Nah saya baru menemukan satu pengetahuan yang tidak diajarkan disekolah-sekolah, perguruan tinggi, bahkan Pasca sarjana sekalipun. Saya banyak belajar dari jarak jauh kepada mereka-mereka yang telah sukses. Pelajaran-pelajaran tersebut saya dapatkan dari mentor-mentor yang belum mengenal saya sebagai murid diam-diamnya, diantaranya Robert T Kiyosaki, Purdi Candra, Tung Desem Waringin, Antoni Robin, Robert H Sculler, dan banyak lagi, serta dari pengalaman usaha jatuh bangun saya sendiri.

Dalam tulisan kali ini mari kita belajar dan praktekkan salah satu ajaran mereka, salah satunya yang diajarkan oleh Purdi Candra, Beliau menyatakan bahwa hanya ada 4 cara untuk menjadi pengusaha, sukses dan kaya. Keempat cara tersebut yaitu :

Pertama, kalau pengen jadi pengusaha, sekolah jangan terlalu pinter, kalau kita punya anak anak bodoh, sebanarnya harus seneng, kalau anak kita terlalu pintar di sekolahnya, barangkali akan sulit menjadi pengusaha, sebab saking pinternya, nanti banyak menghitung. Mau usaha kok dihitung-hitung, usaha itu dibuka bukan dihitung. So, kalau ada temen-temen yang sekarang masih kuliah tolong  IP nya jangan sampai tiga. “Kalau ip nya diatas tiga itu sudah rusak” kata Purdi E Chandra lho he..he….

Kedua, Kita itu harus malas, Anda kalau rajin saya yakin anda mesti jadi karyawan, karyawan yang baik itu berangkat pagi pulang petang, kalau  pengusaha nggak pernah masuk setahun nggak apa-apa. Jadi bisa dicoba, besok, mulailah latihan nggak rajin,  coba nggak usah kerja dulu lah. Soalnya kalau nanti dipecat kan enak, bisa jadi pengusaha, sebab wisudanya calon pengusaha adalah ketika dipecat jadi karyawan. Jadi bagi Anda yang baru saja kena PHK, selamat Anda telah sukses diwisuda, bersyukurlah kepada Tuhan, ada kesempatan untuk jadi pengusaha sungguhan.

Ketiga, kalau mau kaya dan jadi pengusaha, Anda mesti konyol. dalam bahasa inggris be different, jadilah berbeda, jadi kalau kita biasa-biasa kayak umumnya orang, maka kita sama saja dengan orang lain. jadi pengusaha itu ambillah resiko, dan mengambil resiko itu sampai kita nggak tahu resikonya kayak apa. Anak kecil waktu berlatih berjalan dia tidak tahu resikonya seperti apa, akhirya dia pandai berjalan. Ayam dan burung, pagi-pagi keluar, sore sudah balik lagi dengan perut penuh makanan. Itu ayam, yang nggak punya otak, apalagi kita yang otaknya hebat, atau jangan-jangan untuk menjadi kaya nggak perlu pakai otak he…he….

Keempat, Jangan rasional, kita harus latih otak kanan yang tidak rasional itu, itu yang disekolah tak diajarkan, kalau diantara kita ada yang bodoh sebetulnya nggak bodoh. Biasanya, seseorang semakin akademis pinter, semakin tidak kreatif. Di perguruan tinggi sebaiknya penghargaan diberikan kepada sepuluh orang terpintar dan sepuluh orang terbodoh. Sebab, sepuluh yang pinter biasanya jadi karyawan yang baik dan sepuluh orang yang bodoh akan menjadi pengusaha.

Yah Itulah keempat tips kebodohan yang bisa menyebabkan kita sukses, kaya dan bahagia. Anda nggak percaya sama saya ? nggak apa-apa, sebab nanti kalau saya sudah terkenal, tulisan saya yang seperti ini barangkali harus dibayar. Tapi betul juga jangan percaya sama saya, percayalah pada kemampuan diri sendiri, sebab itu yang pertama kita miliki dan tak perlu meminjam pada orang lain.

Sedangkan rahasia bahagia; 
pertama, jangan pernah ingat keburukan orang lain seburuk apapun sikapnya terhadap kita, 
kedua, jangan ingat-ingat kebaikan kita sebesar apapun kepada orang lain. nggak usah mengharapkan terima kasih, namun jika ada yang berterima kasih, ucapkan pula terima kasih dengan tulus. 
Ketiga, aib seseorang atau siapapun, keburukan atau kejelekan, biarkan keluar dari mulut orang lain, sebisa mungkin jangan pernah keluar dari mulut kita. Jika suatu kebaikan atau berita baik, sebisa mungkin, biarkan mulut kita yang pertama mengucapkannya.
Keempat, jangan pernah mengeluh untuk apapun, sebab ada banyak orang yang lebih berhak mengeluh daripada kita, hidup ini indah, hidup ini menantang, biarkan kita mengarunginya dengan semangat, bersyukur dengan senyum keindahan….

Salam Sukses, Kaya dan Bahagia ….

sumber : http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2011/11/16/rahasia-sukses-kaya-dan-bahagia-413090.html

Monday, December 9, 2013

Sudahkan Anda Sukses dan Bahagia...?


Sukses & Bahagia! 

Success means having the courage, the determination and the will to be come person you believe you were meant to be.” George Sheehan

Cerita di tepi pantai Pangandaran
Tersebutlah seorang direktur muda sedang berlibur di pantai Pangandaran. Direktur muda ini, kita sebut saja Brian, merupakan salah satu contoh sukses seorang profesional muda. Selain cerdas dan merupakan lulusan perguruan tinggi terbaik di negeri ini baik S1 dan gelar MBA-nya, Brian dalam usia pertengahan 30an sudah menduduki posisi Direktur disebuah perusahan MNC yang terkenal.

Pagi itu sambil menikmati hawa sejuk yang dikirimkan laut selatan, Brian berjalan-jalan bertelanjang kaki disepanjang bibir pantai Pangandaran yang cukup indah. Semenanjung “Pangandaran ini sungguh unik” gumam Brian. Dalam lokasi yang sama (berdekatan) kita bisa menyaksikan sunshine dan sunset muncul dan tenggelam dari laut di kejauhan.

Langkah kaki Brian terhenti tatkala dikejauhan dilihatnya seorang nelayan sedang memancing ikan dilaut. Bukan proses memancingnya yang menarik perhatian, namun sungguh luarbiasa, hampir setiap menit Nelayan itu mengangkat Joran dari laut dan mendapatkan beragam ikan tersangkut diujung kailnya. Brian berdiri terdiam menikmasi “proses bisnis” yang demikian mulus dan sukses, sampai dia melihat sang Nelayan berhenti memancing dan mengemasi peralatan yang dibawanya.

Penasaran dan ingin tahu, Brian datang mendekat ke Nelayan. “Pak Nelayan, mengapa Anda berhenti memancing?”. Sang Nelayan dengan rambut disaput uban menoleh kepada Brian dengan pandangan sedikit heran. Melihat hal itu Brian tersadar ketidaksopanan yang dia lakukan. “Maaf pak, saya turis di pondok itu. Nama saya Brian dan kebetulan tadi saya sempat perhatikan bapak saat memancing dan mendapatkan hasil yang banyak. Cuma saya heran kenapa bapak berhenti memancing?”, jelas Brian sambil mengulurkan tangan untuk memberikan salam. Kali ini sang Nelayan separo baya menyambut tangan Brian dan memberikan senyum hangat tanda dia menerima kehadiran Brian.

Berdua mereka duduk di sebuah batu besar yang tergelatak ditepi pantai curam sambil memandang laut dikejauhan. “Nak Brian tadi tanya apa ya?”, kata sang nelayan sambil mengeluarkan rokok lintingnya. “Ini pak, saya heran mengapa bapak berhenti memancing padahal hasil yang didapatkan bagus sekali”, ulang Brian sambil menunjuk sebuah ember yang penuh dengan ikan. “Oooooo itu pertanyaanya......ya memang harus berhenti, lha wong ember yang saya bawa sudah penuh kok!” jawab sang nelayan sambil tertawa terkekeh memperlihatkan giginya yang kehitaman dimakan asap rokok.

“Mengapa bapak tidak membawa ember-ember yang lebih banyak untuk membawa hasil tangkapan?” desak Brian penuh keheranan. “Lho, ember lain itu untuk apa nak Brian?”, gantian sang Nelayan yang terbelalak keheranan. “Ya, tentu saja agar bapak bisa memancing ikan lebih banyak lagi pak”, jelas Brian dengan gemas akan jawaban polos sang Nelayan. “Ikan2 yang lebih banyak itu untuk apa nak Brian”, tanya Nelayan kali ini sambil meneruskan isapan pada rokoknya yang tinggal separuh. “Wah, bapak ini gimana sih, kalau bapak bisa mendapatkan lebih banyak ikan, bapak bisa menjualnya dan kemudian mengumpulkannya untuk jadi modal beli pancing lagi pak”, jelas sang lulusan Cum Laude MBA dengan berapi-api.

“Hmmm, kalau punya banyak pancing untuk apa?”, kembali sang Nelayan bertanya. “Bapak ini gimana sih, dengan banyak pancing artinya bapak bisa memancing lebih banyak lagi ikan, sehingga hasilnya bisa bapak tabung dan ketika sudah cukup bapak bisa membeli perahu”, saking gemasnya Brian menjawab seperti senapan yang memuntahkan peluru. “Kalau punya perahu, apa yang saya dapatkan?”, kembali sang Nelayan dengan naif bertanya.

Uuuuuuuh..........kali ini sebelum menjawab Brian menarik nafas panjang untuk menyabarkan hatinya yang panas saking gemasnya dengan Nelayan yang duduk santai didepannya ini. “Bapak, kalau bapak punya perahu, maka bapak akan dapat menangkap lebih banyak ikan, dengan demikian maka bapak akan memiliki cukup uang untuk makan, sekolah anak2, dan juga berlibur. Trus yang paling penting bapak cukup memiliki waktu untuk bermain dengan anak2 dan cucu bapak tanpa diganggu oleh kesibukan kerja”, detik terakhir kalimat terlontar Brian teringat bahwa liburan ini adalah liburan pertama dengan keluarga yang dia lakukan sejak 2 tahun lalu saat dirinya diangkat jadi direktur.

“Oooooo, itu to yang dimaksud nak Brian, untuk bisa makan, sekolah anak dan terutama meluangkan waktu dengan keluarga”, balas sang Nelayan sambil tersenyum. “Benar pak, itu adalah hal yang paling mahal dan paling susah kita dapatkan” jawab Brian setengah mengeluh. “Kalau itu yang dicari, makan dan sekolah anak2, sudah bapak berikan dengan hasil seember ikan ini. Kembali dari sini bapak momong cucu yang baru umur 2 tahun. Nak Brian mau bapak perkenalkan?”, ajak pak Nelayan sambil mengangkat peralatan dan hasil tangkapan. Brian hanya berdiri termangu dan diam.

Definisikanlah!
Dalam banyak Leadership, Managerial dan Motivational workshop yang dilakukan oleh penulis, pertanyaan tentang rahasia kesuksesan merupakan salah satu pertanyaan favorite banyak orang. Bahkan pertanyaan yang sama seringkali dilontarkan pada saat coaching “one on one” yang lebih pribadi.

Tidak salah dan jelas bukan dosa kalau semua orang ingin sukses. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu seringkali berkata “Eko, kamu sekarang jadi orang sukses ya, beda dengan saya”. Pertanyaan yang sederhana namun mengandung unsur “menyesatkan” didalamnya. Kalau mendapatkan pertanyaan tersebut biasanya saya akan bertanya balik, “menurut sampeyan sukses itu yang bagaimana sih?”. Jawaban dari pertanyaan ini akan membawa kita masuk lebih dalam ke konstruksi bangunan kesuksesan masing-masing individu. Temuan mengejutkan lainnya ternyata bangunan kesuksesan masing-masing orang berbeda, tergantung bagaimana mereka mendesign dan membangunnya.

Jadi, pertanyaan apakah Anda sukses merupakan pertanyaan yang sangat relatif. Rumah megah dan mobil mewah bisa merupakan tanda sukses bagi seseorang namun tidak ada artinya bagi orang lain. Jabatan direkur perusahaan ternama mungkin mentereng bagi orang lain, namun tidak berarti untuk seorang ibu rumah tangga yang mengukur kesuksesan dengan seberapa banyak cinta & kasih tumbuh dan berkembang di hati dan perilaku anak2nya.

Pernyataan inilah yang merupakan jawaban mengapa dialog Brian dan Nelayan diatas seperti percakapan antara dua mahluk dari planet yang berbeda. Sang Nelayan memaknai kesuksesan dia dengan cara yang sederhana, tangkapan ikan secukupnya dan waktu yang cukup untuk bermain dengan keluarga. Sementara Brian lebih fokus kepada cara untuk mendapatkan kesuksesan daripada kriteria kesuksesan itu sendiri.

Sukses & Bahagia
Arvan Pradiansyah, seorang motivator memberikan definis yang sederhana untuk membedakan dua istilah ini. Dua istilah yang sering kali rancu ditangkap dalam alam pemikiran manusia.
Sukses: Mendapatkan apa yang diinginkan
Bahagia: Menginginkan apa yang didapatkan.
Sesama lulusan perguruan tinggi sangat sah bilang dirinya sukses karena sekarang sudah menjadi Manager disebuah perusahaan. Sementara seorang yang lain bilang bahwa dirinya kurang sukses walaupun posisi dirinya lebih tinggi dari teman tadi yaitu seorang Senior Manager.

Mengapa ini terjadi, sebab 2 orang yang berbeda memberikan makna yang berbeda tentang kesuksesan, yang satu mendefinisikan kesuksesan apabila 15 tahun sesudah lulus kuliah menjadi Manager dan satu lagi mendefinisikan kesuksesan adalah menjadi Direktur pada kurun waktu yang sama. Jadi kalau Anda ingin sukses langkah pertama yang harus kita lakukan adalah difinisikanlah sukses itu seperti apa? Semakin detail definisi tersebuat semakin mudah Anda mengukurnya.

Bagaimana menurut Anda?

sumber : http://ekoutomo.blogspot.com/2009/09/sukses-bahagia.html