Monday, December 9, 2013

Sudahkan Anda Sukses dan Bahagia...?


Sukses & Bahagia! 

“Success means having the courage, the determination and the will to be come person you believe you were meant to be.” George Sheehan

Cerita di tepi pantai Pangandaran
Tersebutlah seorang direktur muda sedang berlibur di pantai Pangandaran. Direktur muda ini, kita sebut saja Brian, merupakan salah satu contoh sukses seorang profesional muda. Selain cerdas dan merupakan lulusan perguruan tinggi terbaik di negeri ini baik S1 dan gelar MBA-nya, Brian dalam usia pertengahan 30an sudah menduduki posisi Direktur disebuah perusahan MNC yang terkenal.

Pagi itu sambil menikmati hawa sejuk yang dikirimkan laut selatan, Brian berjalan-jalan bertelanjang kaki disepanjang bibir pantai Pangandaran yang cukup indah. Semenanjung “Pangandaran ini sungguh unik” gumam Brian. Dalam lokasi yang sama (berdekatan) kita bisa menyaksikan sunshine dan sunset muncul dan tenggelam dari laut di kejauhan.

Langkah kaki Brian terhenti tatkala dikejauhan dilihatnya seorang nelayan sedang memancing ikan dilaut. Bukan proses memancingnya yang menarik perhatian, namun sungguh luarbiasa, hampir setiap menit Nelayan itu mengangkat Joran dari laut dan mendapatkan beragam ikan tersangkut diujung kailnya. Brian berdiri terdiam menikmasi “proses bisnis” yang demikian mulus dan sukses, sampai dia melihat sang Nelayan berhenti memancing dan mengemasi peralatan yang dibawanya.

Penasaran dan ingin tahu, Brian datang mendekat ke Nelayan. “Pak Nelayan, mengapa Anda berhenti memancing?”. Sang Nelayan dengan rambut disaput uban menoleh kepada Brian dengan pandangan sedikit heran. Melihat hal itu Brian tersadar ketidaksopanan yang dia lakukan. “Maaf pak, saya turis di pondok itu. Nama saya Brian dan kebetulan tadi saya sempat perhatikan bapak saat memancing dan mendapatkan hasil yang banyak. Cuma saya heran kenapa bapak berhenti memancing?”, jelas Brian sambil mengulurkan tangan untuk memberikan salam. Kali ini sang Nelayan separo baya menyambut tangan Brian dan memberikan senyum hangat tanda dia menerima kehadiran Brian.

Berdua mereka duduk di sebuah batu besar yang tergelatak ditepi pantai curam sambil memandang laut dikejauhan. “Nak Brian tadi tanya apa ya?”, kata sang nelayan sambil mengeluarkan rokok lintingnya. “Ini pak, saya heran mengapa bapak berhenti memancing padahal hasil yang didapatkan bagus sekali”, ulang Brian sambil menunjuk sebuah ember yang penuh dengan ikan. “Oooooo itu pertanyaanya......ya memang harus berhenti, lha wong ember yang saya bawa sudah penuh kok!” jawab sang nelayan sambil tertawa terkekeh memperlihatkan giginya yang kehitaman dimakan asap rokok.

“Mengapa bapak tidak membawa ember-ember yang lebih banyak untuk membawa hasil tangkapan?” desak Brian penuh keheranan. “Lho, ember lain itu untuk apa nak Brian?”, gantian sang Nelayan yang terbelalak keheranan. “Ya, tentu saja agar bapak bisa memancing ikan lebih banyak lagi pak”, jelas Brian dengan gemas akan jawaban polos sang Nelayan. “Ikan2 yang lebih banyak itu untuk apa nak Brian”, tanya Nelayan kali ini sambil meneruskan isapan pada rokoknya yang tinggal separuh. “Wah, bapak ini gimana sih, kalau bapak bisa mendapatkan lebih banyak ikan, bapak bisa menjualnya dan kemudian mengumpulkannya untuk jadi modal beli pancing lagi pak”, jelas sang lulusan Cum Laude MBA dengan berapi-api.

“Hmmm, kalau punya banyak pancing untuk apa?”, kembali sang Nelayan bertanya. “Bapak ini gimana sih, dengan banyak pancing artinya bapak bisa memancing lebih banyak lagi ikan, sehingga hasilnya bisa bapak tabung dan ketika sudah cukup bapak bisa membeli perahu”, saking gemasnya Brian menjawab seperti senapan yang memuntahkan peluru. “Kalau punya perahu, apa yang saya dapatkan?”, kembali sang Nelayan dengan naif bertanya.

Uuuuuuuh..........kali ini sebelum menjawab Brian menarik nafas panjang untuk menyabarkan hatinya yang panas saking gemasnya dengan Nelayan yang duduk santai didepannya ini. “Bapak, kalau bapak punya perahu, maka bapak akan dapat menangkap lebih banyak ikan, dengan demikian maka bapak akan memiliki cukup uang untuk makan, sekolah anak2, dan juga berlibur. Trus yang paling penting bapak cukup memiliki waktu untuk bermain dengan anak2 dan cucu bapak tanpa diganggu oleh kesibukan kerja”, detik terakhir kalimat terlontar Brian teringat bahwa liburan ini adalah liburan pertama dengan keluarga yang dia lakukan sejak 2 tahun lalu saat dirinya diangkat jadi direktur.

“Oooooo, itu to yang dimaksud nak Brian, untuk bisa makan, sekolah anak dan terutama meluangkan waktu dengan keluarga”, balas sang Nelayan sambil tersenyum. “Benar pak, itu adalah hal yang paling mahal dan paling susah kita dapatkan” jawab Brian setengah mengeluh. “Kalau itu yang dicari, makan dan sekolah anak2, sudah bapak berikan dengan hasil seember ikan ini. Kembali dari sini bapak momong cucu yang baru umur 2 tahun. Nak Brian mau bapak perkenalkan?”, ajak pak Nelayan sambil mengangkat peralatan dan hasil tangkapan. Brian hanya berdiri termangu dan diam.

Definisikanlah!
Dalam banyak Leadership, Managerial dan Motivational workshop yang dilakukan oleh penulis, pertanyaan tentang rahasia kesuksesan merupakan salah satu pertanyaan favorite banyak orang. Bahkan pertanyaan yang sama seringkali dilontarkan pada saat coaching “one on one” yang lebih pribadi.

Tidak salah dan jelas bukan dosa kalau semua orang ingin sukses. Seorang teman yang sudah lama tidak bertemu seringkali berkata “Eko, kamu sekarang jadi orang sukses ya, beda dengan saya”. Pertanyaan yang sederhana namun mengandung unsur “menyesatkan” didalamnya. Kalau mendapatkan pertanyaan tersebut biasanya saya akan bertanya balik, “menurut sampeyan sukses itu yang bagaimana sih?”. Jawaban dari pertanyaan ini akan membawa kita masuk lebih dalam ke konstruksi bangunan kesuksesan masing-masing individu. Temuan mengejutkan lainnya ternyata bangunan kesuksesan masing-masing orang berbeda, tergantung bagaimana mereka mendesign dan membangunnya.

Jadi, pertanyaan apakah Anda sukses merupakan pertanyaan yang sangat relatif. Rumah megah dan mobil mewah bisa merupakan tanda sukses bagi seseorang namun tidak ada artinya bagi orang lain. Jabatan direkur perusahaan ternama mungkin mentereng bagi orang lain, namun tidak berarti untuk seorang ibu rumah tangga yang mengukur kesuksesan dengan seberapa banyak cinta & kasih tumbuh dan berkembang di hati dan perilaku anak2nya.

Pernyataan inilah yang merupakan jawaban mengapa dialog Brian dan Nelayan diatas seperti percakapan antara dua mahluk dari planet yang berbeda. Sang Nelayan memaknai kesuksesan dia dengan cara yang sederhana, tangkapan ikan secukupnya dan waktu yang cukup untuk bermain dengan keluarga. Sementara Brian lebih fokus kepada cara untuk mendapatkan kesuksesan daripada kriteria kesuksesan itu sendiri.

Sukses & Bahagia
Arvan Pradiansyah, seorang motivator memberikan definis yang sederhana untuk membedakan dua istilah ini. Dua istilah yang sering kali rancu ditangkap dalam alam pemikiran manusia.
Sukses: Mendapatkan apa yang diinginkan
Bahagia: Menginginkan apa yang didapatkan.
Sesama lulusan perguruan tinggi sangat sah bilang dirinya sukses karena sekarang sudah menjadi Manager disebuah perusahaan. Sementara seorang yang lain bilang bahwa dirinya kurang sukses walaupun posisi dirinya lebih tinggi dari teman tadi yaitu seorang Senior Manager.

Mengapa ini terjadi, sebab 2 orang yang berbeda memberikan makna yang berbeda tentang kesuksesan, yang satu mendefinisikan kesuksesan apabila 15 tahun sesudah lulus kuliah menjadi Manager dan satu lagi mendefinisikan kesuksesan adalah menjadi Direktur pada kurun waktu yang sama. Jadi kalau Anda ingin sukses langkah pertama yang harus kita lakukan adalah difinisikanlah sukses itu seperti apa? Semakin detail definisi tersebuat semakin mudah Anda mengukurnya.

Bagaimana menurut Anda?

sumber : http://ekoutomo.blogspot.com/2009/09/sukses-bahagia.html

Thursday, December 5, 2013

Rahasia Pujian Terhadap Kinerja dan Teamwork


Pelit Pujian?
-“Pak Asep, well done, inisiatif bapak minggu ini untuk melatih anggota team kita dalam hal ‘team work’ sangat membantu meningkatkan kinerja departemen”’. Kapan terakhir kali kita memberikan pujian seperti contoh diatas? Ke anak buah, teman, atasan atau anggota keluarga kita? Well, semoga untuk mencari jawabannya lebih mudah dibandingkan dengan mencari jarum di tumpukan jerami. Atau mencari kapan terakhir kali kita mencemooh atau mencela orang lain, ternyata lebih mudah menemukannya dibandingkan yang pertama.

Budaya kita, budaya Indonesia terlihat sulit untuk memberikan ruang yang cukup bagi pujian. Prestasi, ucapan yang elok dan tindakan yang terpuji dianggap sudah selayaknya dilakukan oleh anakbuah kita (karena digaji), oleh anak dan istri kita (saya, sebagai suami yang memberi nafkah dan makan kepada mereka), oleh teman (memang itu tanggungjawabnya) dll. Budaya memberikan pujian terhadap hal2 yang baik yang tidak eksis ini sudah meminggirkan salah satu kebutuhan manusia yang paling dasar, yaitu: dihargai.

Setiap manusia, baik itu besar dan kecil, tua dan muda, atasan atau bawahan semuanya membutuhkan apa yang dinamakan pujian atau penghargaan yang tulus atas hal baik yang mereka lakukan. Pernah tidak kita merasa uring-uringan sendiri saat kita melaporkan pekerjaan hebat yang sudah kita laporkan, namun atasan hanya menanggapinya dengan acuh? Perasaan yang sama pasti akan dirasakan juga oleh orang lain terhadap kita saat kita tidak melakukan hal yang sama ke mereka.

Buat apa Pujian?
Buat apa sih pujian? Pertanyaan yang bagus dan wajar, kalau memang tidak ada fungsinya ya buat apa kita lakukan. Coba kita gali lebih dalam dengan contoh dibawah ini. Pujian secara umum kita bagi menjadi 2*:
- Maintain self esteem (menjaga harga diri)
- Enhance self Esteem (meningkatkan harga diri)

Pujian atau ungkapan yang pertama –menjaga harga diri- kita tujukan kepada mereka yang belum bisa atau gagal melakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Kita perlu menjaga harga diri mereka, sebab saya yakin bahwa tanpa dijatuhkanpun mereka sebenarnya sudah sangat menyadari bahwa mereka gagal dan tidak perform. Coba kita tempatkan diri kita dikasus dibawah ini.

- Kita mendapatkan tugas dari atasan untuk mengerjakan suatu proyek dengan deadline 2 minggu. Pada saat hari H ternyata proyek tersebut belum selesai dan baru tercapai 70%. Nah kalimat manakah dibawah ini yang ingin kita dengar dari boss kita:
a. ‘You lazy, masak proyek seperti ini aja ngak bisa loe kerjakan tepat waktu?’. Atau
b. ‘Pak Anda, terimakasih untuk usahanya yang keras dalam mengerjakan proyek ini, namun proyek ini masih ketinggalan 30% dari deadline, apa yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikannya lebih cepat?’.

Kalimat pertama diatas jelas akan membuat harga diri kita yang menerima akan jatuh! Dan akibatnya usaha kita untuk melakukan perbaikan terhambat karena kita merasa bahwa hukuman sudah dijatuhkan yaitu ungkapan menjatuhkan diatas. Sedangkan kalimat kedua, kita menjaga harga diri orang itu agar tidak jatuh sehingga pintu untuk menuju perbaikan masih terbuka.

Bayangkan kalau kalimat pertama diatas kita layangkan ke operator dump truk di Quarry, untung kalau cuma ngambek, kalau ngejar kita dengan membawa truk DT777 bagaimana? (pernah terjadi di perusahaan lain).

Pujian yang bersifat meningkatkan harga diri bertujuan agar orang tersebut merasa dihargai dan mau melakukan/mengulangi hal yang sama dilain kesempatan.
Coba kita tempatkan diri kita pada situasi dibawah ini.
- Pak Sircon merupakan TL drilling di Quarry. Jobdes utamanya adalah melakukan pemboran dan peledakan material ditambang. Pada suatu kesempatan pak Sircon dengan baik sekali merancang pola peledakan sehingga hasil peledakan fragmentasi materinya bagus sekali sehingga memudahkan untuk diangkut ke crusher dan juga membuat area tambang menjadi rapi.

Dibawah ini adalah 2 komentar yang berbeda dari atasan pak Sircon:
a. ’Sircon, harusnya dari dulu2 kalau membuat peledakan hasilnya harus seperti ini, sehingga teman2mu di loading dan hauling tidak mengalami kesulitan dan saya tidak banyak mendapat komplai dari manager’.
b. ’Sircon, good job, hasil peledakan kemarin bagus sekali, fragmentasinya sesuai target dan front blasting rapi, teman2 dari loading dan hauling pasti sangat berterimakasih. Saya juga akan laporkan hasil yang baik ini ke manager kita’.

Jelas bahwa ungkapan yang kedua akan membuat harga diri pak Sircon terangkat dan akan bersemangat untuk mengulangi perbuatan yang baik tersebut sesering mungkin, sedangkan ungkapan A akan membuat, pak Sircon merasa tidak dihargai dan tidak ada gunanya juga untuk bekerja dengan baik sebab kerja baik dan buruk tanggapannya sama saja.

Sugar Coating
‘Welldone’, ‘good job’, ‘tepukan pundak’ dll, apakah termasuk Enhance Esteem? Well kita harus hati2, manusia sangat tajam perasaanya dalam menangkap tindakan orang dilakukan dengan tulus atau tidak.

Suatu pujian yang tidak tulus (sugar coating) bisa dengan mudah dideteksi oleh penerima dan malah ditangkap sebagai basa basi yang basi. Untuk menghindari jebakan ini, ada tips yang bisa dipakai:
- be spesific
Saat memberikan pujian, sebutkan dengan jelas situasi dan fakta perbuatan dan atau perkataan yang dilakukan/diungkapkan oleh orang yang hendak kita puji. Ada 2 hal yang bisa kita dapatkan dalam suatu pujian yang spesifik, pertama akan meyakinkan penerima bahwa pujian kita tulus karena jelas pujian tadi tentang apa, yang kedua akan menghindari salah tangkap. Pernah tidak kita menerima pujian ‘well done’ kemudian kita bingung pujian tadi tentang apa nih?

Now what?
Merenungkan hal2 diatas, pundi2 pujian kita bisa kita buka ngak? Bisa tidak kita tidak pelit memberikan pujian pada anakbuah yang berprestasi, bisa tidak kita menjaga harga diri anak buah kita yang sedang gagal sehingga mau melakukan perbaikan?

Semuanya terserah ditangan anda!
Selamat mencoba ‘maintain and enhance self esteem’ anak buah anda atau keluarga anda?

Eko Jatmiko Utomo
HR Officer

* 5 Key Principles (Kaidah Pokok)
Prinsip ini dikembangkan dan disebarkan oleh DDI Consultant diseluruh dunia. Tujuan utama dari penggunaan 5KPs adalah untuk memenuhi kebutuhan personal dari orang yang sedang berinteraksi dengan kita termasuk kebutuhan untuk dihargai.
#1 Enhance & maintain Self Esteem
#2 Listen & Respond with Empathy
#3 Ask for help & encourage Involvement
#4 Share thought, rationale and feeling
#5 Support without removing responsibility

sumber : http://ekoutomo.blogspot.com/2008/01/memberikan-pujian.html

Saturday, November 16, 2013

Mengungkap Rahasia Dahsyatnya Otak Kanan Manusia #bagian 2

ini adalah bagian ke-2 dari tulisan "Mengungkap Rahasia Dahsyatnya Otak Kanan Manusia" bagian pertama dapat dibaca disini.

Hasil Penelitian Mutakhir

Tahukah Anda, bahwa kemampuan otak kanan itu memiliki kapasitas 90% dan otak kiri hanya 10-12%. Hasil penelitian mutakhir di AS menyebutkan, peran logika dalam membuat orang menjadi sukses hanya 4-6%, sedangkan 94-96% adalah tanggungjawab otak kanan yang banyak berhubungan dengan inovasi, kreativitas, naluri, intuisi, daya cipta, kejujuran, keuletan, tanggungjawab, kesungguhan, spirit, kedisiplinan, etika, empati dan lain-lain.

Sedangkan tugas otak kiri adalah yang selalu berhubungan dengan angka-angka, bahasa analisa, logika, intelektual, ilmu pengetahuan. Adapun otak kanan bertanggungjawab dalam hal imajinasi, kreativitas, seni, music, inovasi, daya cipta, intuisi, otak bawah sadar, keikhlasan, kebahagiaan, spirit, keuletan, kejujuran, keindahan dan lain-lain. Selain diurusi oleh otak kiri, juga menjadi urusan otak kanan.

....Otak kanan dapat merekam dengan cepat dan tersimpan selamanya dalam memori otak. Sel-sel darah manusia dapat menjadi cadangan tempat penyimpanan memori manakala memori otak kita penuh. Kapasitas kemampuan otak kanan dalam menyimpan memori mencapai 10 pangkat 5 juta kilometer....

Dikatakan Arman, otak kanan, sesungguhnya dapat merekam dengan cepat dan tersimpan selamanya dalam memori otak. Sel-sel darah manusia dapat menjadi cadangan tempat penyimpanan memori manakala memori otak kita penuh. Perlu diketahui, kapasitas kemampuan otak kanan dalam menyimpan memori mencapai 10 pangkat 5 juta kilometer, yang kalau dihitung deretan angka nol di belakangnya adalah sebanding dengan jarak antara bumi dan bulan 14 kali pulang pergi.

Lalu apa pentingnya imajinasi? Lebih jauh, Arman member contoh, Albert Einstein menemukan teori relativitas karena kekuatan imajinasinya. Kemudian sewaktu duduk di bangku sekolah, gurunya mengajari Einstein tentang kekuatan daya imajinasi. Salah satu rahasia kecerdsasan orang Yahudi adakah kekuatan imajinasi.

Andrea Hirata, penulis buku Laskar Pelangi bisa sukses, bukan karena ilmu finance yang mereka pelajari di Sorbonne Prancis, akan tetapi karena kemampuan daya imajinasi seorang Andrea kreatif meramu perjalanan hidupnya menjadi suatu cerita yang menarik, lalu ditulislah kedalam bentuk Novel Tetralogi Laskar Pelangi—sekarang menjadi novel berkelas dunia karena sudah dialihbahasakan ke dalam berbagai bahasa. Novelnya kemudian difilmkan dan sukses di pasaran.

Salah satu orang yang bisa membiayai untuk berwisata ke luar angkasa adalah pembuat game computer dari Amerika Serikat (AS), keahlian untuk merancang game komputer, tentunya membutuhkan kemampuan imajinasi yang tinggi.

Bahkan orang terkaya di dunia, Billy Gates, pemilik Microsoft adalah seorang yang drop out dari perguruan tinggi. Tapi jangan ditanya soal tekad dan daya imajinasi yang tinggi, sehingga mampu mendirikan perusahaan Microsoft yang dibangun dengan modal tekad yang kuat.

Bahkan, Matshushitya Konoshuke, pemilik perusahaan elektronik Jepang “Panasonic” adalah mantan penjaga toko sepeda. Termasuk motivator sekaligus penulis buku terkenal Andri Wongso adalah anak dari keluarga miskin di Malang yang tidak tamat sekolah dasar, tapi karena keberaniannya bermimpi (daya imajinasi) akhirnya menjadi bintang film di Hongkong serta membuat kata-kata mutiara yang ditulis di kertas pembatas buku bernama Harvest. Itu artinya, cerdas saja tidak cukup, tapi diperlukan kreativitas dengan selalu mengasah imajinasi, dalam hal ini merangsang otak kanannya.

God Spot

Peneliti “Neuorolog” Michael Persinger di awal tahun 1990-an dan VS. Ramachandran bersama timnya di Universitas California. Barat pernah meneliti, adanya titik Tuhan (God Spot) dalam otak manusia. Ternyata, pusat spiritual yang terpasang ini terletak di antara hubungan-hubungan syaraf dalam cuping-cuping temporal otak. Melalui pengamatan terhadap otak dengan topografi emisi, positron, dan area-area syaraf tersebut akan bersinar manakala subjek penelitian diarahkan untuk mendiskusikan topic spiritual atau agama.

Menurut ahli syaraf, syaraf ini memiliki gejala yang unik, karena tidak teraliri oleh darah sepanjang hari, namun tidak mati. Syaraf ini butuh darah hanya 2-4 detik saja sebanyak 5 kali sehari. Syaraf ini diyakini sebagai chip atau modem yang ditanam oleh Allah ke dalam otak manusia agar mampu menerima hal-hal yang berhubungan dengan spiritual dan ilmu yang datangnya langsung dari Sang Pencipta melalui ilham.

Sebaliknya, apabila syaraf ini tidak aktif, maka orang tersebut sulit untuk menerima hal-hal yang berbau moral/etika, apalagi spiritual. Mungkin pula syaraf ini yang tidak aktif pada anak kita, sehingga sulit untuk membentuk karakter anak yang pada akhirnya nyaris gagal membangun karakter bangsa ini.

....Otak kanan memiliki kemampuan dalam hal rasa empati, kemampuan berkolaborasi dengan hati, dan kemampuan daya kreatif....

“Otak kanan memiliki kemampuan dalam hal rasa empati atau kepedulian yang tinggi. Otak kanan juga memiliki kemampuan berkolaborasi dengan hati, memiliki kemampuan daya kreatif dan seni yang tinggi. Keistimewaan otak kanan juga memiliki gelombang otak bersama gelombang alfa. Gelombang ini yang bisa merasakan keikhlasan, kebahagiaan, ketenangan, kekhusyukan, relaxi, hening, kepuasan, imajinatif dan seterusnya.

Praktisi pendidikan Djauharah Bawazir menambahkan, untuk memfungsikan otak kanan anak, perlu merubah metosde dan paradigm guru dan pendidikan kea rah pembelajaran yang lebih baik dan efesien. “Pendidik harus focus. Setelah merubah paradigma, lalu ditanamkan kesadaran, disiapkan mental berjuang dan pengorbanannya. Ingat, guru itu digugu dan ditiru,” kata Djauharah yang juga Dosen PGTK Bunyan.

Kata Djauharah, ketika paradigma diubah, maka seorang pendidik akan diikuti anak didiknya tanpa paksaan, disegani tapi dicintai, menjadi teladan, mengarahkan, membangun semangat, mengembangkan cita-cita, dan memotivasi. Ketika pola didik dilakukan secara maksimal, maka terbentuklah karakter manusia yang berilmu, bertakwa, ikhlas, santun, tanggungjawab dan sabar.

“Seorang pendidik ketika memberikan hukuman kepada anak didiknya, bukanlah pelampiasan kekesalan, tapi untuk kebaikan anak didiknya. Jangan buat anak susah, ketakutan, dan tertekan di kelas, sehingga menyebabkan anak tidak kreatif. Pendidik yang sukses adalah ketika anak didiknya selalu senang dan bersemangat pergi ke sekolah dan ingin sekali bertemu dengan gurunya,” tandas penulis buku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) itu. [Desastian]

sumber : http://www.voa-islam.com/news/indonesia/2011/01/20/12876/mengungkap-rahasia-dahsyatnya-otak-kanan-manusia/